---------- Forwarded message ----------
From: Setyo Widodo <widodo.setyo@jtmjv.ae>
Date: Sun, 12 Apr 2009 15:42:45 +0400
Subject: {BLOMnus.brotherhood} Inflasi, Politik dan Kemakmuran: antara
Mitos dan Kenyataan
To: "blomnusbrotherhood@googlegroups.com" <blomnusbrotherhood@googlegroups.com>
VISI 2030: KEMAKMURAN ATAU ILUSI (GDP $ 18000 = KEMAKMURAN?)
Bagian II:
Inflasi, Politik dan Kemakmuran: antara Mitos dan Kenyataan
Imam Semar
Saya akan memulai bagian ke II melihat kutipan di atas dari dua
presiden USA, seorang mentri propaganda Jerman Nazi dan saya sendiri.
Saya pikir pembaca cukup pandai dan saya tidak akan menghina
intelektualitas anda dengan menterjemahkan ketiga sitiran di atas.
Essensi kutipan di atas akan menjadi jelas dengan tulisan di bawah ini
bahwa intrik, pengelabuhan atas penguasaan pencetakan uang dan
kebenaran adalah musuh utama negara.
Mitos: Inflasi adalah kenaikan harga-harga.
Yang benar: Inflasi adalah laju pertumbuhan uang yang beredar di dalam
ekonomi. Bank sentral/otoritas keuangan mencetak uang sehingga
jumlahnya di dalam ekonomi meningkat, akibatnya nilai uang turun dan
harga-harga naik.
Jadi inflasi adalah perbuatan manusia yang disengaja berkaitan dengan
jumlah uang yang beredar, bukan gejala ekonomi akibat permintaan dan
penawaran barang/jasa.
Inflasi = Pajak Tabungan dan Pajak Ekonomi Bawah-Tanah
Pengertian inflasi yang beredar di masyarakat adalah yang mitos bukan
yang sebenarnya. Penguasa tidak ingin kebenaran mitos ini terungkap
karena kebenaran adalah musuh terbesar dari pemerintah (Goebbels).
Bagi pemerintah inflasi mempunyai beberapa fungsi.
1. Pajak atas tabungan
2. Memindahkan kekayaan riil dari penabung ke penghutang
3. Menghancurkan hutang
Pemerintah hidup dari pajak. Tetapi pajak bukanlah hal yang populer.
Bayangkan kalau anda dikenai pajak 70%-80% dari harta atau penghasilan
anda. Anda pasti marah. Oleh sebab itu perlu diciptakan cara yang
lebih halus dan tersembunyi di balik kekuasaan dan hak monopoli
pencetakan uang. Misalnya pemerintah mencetak uang sehingga uang yang
beredar bertambah 20% per tahun, jika barang dan jasa di dalam ekonomi
tidak bertambah berarti nilai uang turun sebesar 20%. Artinya nilai
riil tabungan anda turun, nilai riil gaji anda turun, nilai riil
hutang anda juga turun.
Dengan mitos inflasi (bahwa inflasi = kenaikan harga-harga) berarti
penguasa bisa menyalahkan para pelaku ekonomi terutama pedagang.
Tuduhan bisa dilontarkan bahwa karena ulah pedagang menimbun barang
menyebabkan harga naik seperti yang dilakukan beberapa waktu ini
terhadap produsen minyak sawit dan penyalur beras. Kemudian dibarengi
dengan operasi pasar membuat image penguasa naik. Menjelekkan pedagang
dan mendongkrak citra diri sendiri. Hal ini mudah dicerna dan didukung
rakyat .
Supaya lengkap, inflasi kemudian disamarkan dengan indeks harga bahan
pokok. Kalau yang namanya indeks, cara menghitungnya bisa dibuat
rumit, menjadi intimidatif kalau melihatnya dan tidak lagi transparan.
Ini mengikuti hukum: "kalau kita tidak bisa menyakinkan orang, buatlah
dia bingung supaya akhirnya pasrah dan tidak bertanya lagi". Jadi
jangan heran kalau dengar inflasi negatif tetapi harga diesel dan
minyak goreng naik di atas 20% seperti yang terjadi bulan lalu. Dan
tidak ada wartawan yang menyoal hal ini, karena sudah terintimidasi
oleh rumit dan canggihnya perhitungan indeks harga bahan pokok atau
indeks inflasi.
Sebagai pajak tabungan, inflasi sangat effektif dalam menjangkau
"underground economic" (ekonomi bawah tanah). Kalau pekerja seperti
saya ini, tangan pajak bisa menjangkau kami melalui perusahaan. Pajak
dipotong langsung oleh perusahaan. Lain halnya dengan tukang bakso,
tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya,
mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan. Jangan
dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung yang mangkal
di depan rumah saya, penghasilannya Rp 100.000 - Rp 200.000 per hari,
365 hari per tahun. Jelas penghasilan mereka sudah melewati batas kena
pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara
langsung. Oleh sebab itu diperlukan mekanisme untuk memajaki mereka
yaitu lewat inflasi. Inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka
bisa disebut pajak terhadap harta pelaku ekonomi bawah tanah.
Contoh riilnya, misalnya seorang tukang becak yang di tahun 1980
mangkal di dekat Senayan. Dia memberi jasa mengantar penumpang sejauh
kurang lebih 4 km ke Blok M. Sebagai imbalannya dia diberi uang
sebesar Rp 300. Artinya Rp 300 mewakili jasa mengantar sejauh 4 km
dengan becak. Uang ini disimpannya di lemari sampai tahun 2007. Pada
saat dia sudah tua, dia mau naik becak dengan jarak yang sama. Kalau
Rp 300 itu mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak maka kapan
saja dia gunakan tanda/alat pembayaran yang syah itu dia akan
memperoleh jasa yang sama. Nyatanya tidak demikian. Di tahun 2007
diperlukan Rp 5000 - Rp 8000 untuk jasa yang sama. Artinya nilai riil
tabungan si tukang becak ini sudah termakan oleh inflasi (baca: pajak
tabungan dan pajak ekonomi bawah tanah) walaupun secara sadar si
tukang becak tidak pernah merasa membayar pajak.
Inflasi sebagai pajak, mempunyai spektrum luas. Artinya sasarannya
ialah siapa saja yang mempunyai uang yang di-inflasikan, tidak
mengenal batas negara atau kewarganegaraan, tetapi siapa saja. Seperti
US dollar, yang beredar dan ngendon di bank sentral banyak negara
karena dijadikan cadangan devisa serta yang ada di tabungan
perorangan, laju pertumbuhan dollar yang beredar sebesar 8%-12%
berarti nilai riil simpanan dollar turun dengan laju 8% - 12% per
tahun. Kalau tabungan itu memperoleh bunga maka bunga itu bisa meredam
sedikit turunnya nilai riil tabungan. Catatan: Sentral Bank USA - the
Fed - sejak Maret 2006 tidak lagi melaporkan kepada publik laju
pertambahan supply uang dollar M3. Maksud M3 adalah seluruh jenis
uang, tunai, simpanan tabungan, dan lain lain. Dengan adanya perang di
Irak dan Afganistan, USA memerlukan banyak pemasukkan pajak.
Mendapatkan pemasukkan negara/pemerintah/penguasa melalui inflasi
sangatlah mudah. Syaratnya hanya kekuasaan (dan monopoli)
pencetakan/penerbitan uang. Sedangkan ongkos mencetak sangat murah.
Mencetak uang Rp 100.000 atau Rp 5.000 atau US$100 atau kalau ada
nanti Rp 1000.000, memerlukan usaha, tinta, kertas dan peralatan yang
sama. Apalagi sekarang ini, uang tidak selalu berbentuk kertas
melainkan juga catatan elektronik. Anda digaji melalui transfer
elektronik. Belanja dengan kredit card atau debit card juga secara
elektronik. Ketika bank memberikan hutang, tinggal mengkreditkan di
rekening anda. Praktis penggunaan (uang) kertas sudah berkurang
banyak. Catatan elektronik telah menggantikan kertas. Karena uang
sekarang ini sebagian hanyalah catatan elektronik maka memciptakannya
semakin mudah, hanya dengan pencetan tombol keyboard komputer. Kalau
anda berjiwa kriminal, anda akan bertanya, "tentunya memalsukan uang
sekarang menjadi semakin mudah dan sulit dilacak bagi hacker hacker
ulung". Mungkin saja. Bagi seorang hacker ulung, kalau bisa masuk ke
sistem komputer otoritas keuangan dan mengkreditkan sejumlah uang di
rekeningnya. Mudah bagi yang ulung dan tahu sistemnya. Tidak perlu
lagi beli tinta dan kertas uang serta sembunyi-sembunyi mencetak dan
mengedarkannya.
Liquiditas, Nama Baru Inflasi
Sejarah selalu berulang walaupun tidak sama persis. Oleh sebab itu,
dikatakan bahwa kita bisa belajar dari sejarah. Apakah itu untuk
kebaikan atau untuk kejahatan. Kekuasaan dan monopoli moneter menjadi
landasan Kekaisaran Romawi melakukan mengenceran kadar emas yang
terkandung di dalam uang dinarius nya dari 90% menjadi hampir 0%
selama 250 tahun. Perlahan tetapi pasti. Atau kalau anda mau
mencarinya di internet, cerita tentang John Law dan Duke Philippe
d'Orléans berserta Banque Royale (Royal Bank) di tahun 1716 sampai
1720. Sampai-sampai orang Prancis alergi terhadap kata bank. Yang kita
jumpai sekarang ini adalah Credit Lyonese atau Credit Suisse. Atau
kalau anda buka situsnya Bank Indonesia, dan membaca sejarah Bank
Indonesia, anda akan tahu bahwa keuangan republik ini didirikan di
atas inflasi untuk membiayai perjuangan kemerdekaan dulu. Atau kalau
mau baca majalah atau koran luar negri baru-baru ini tentang Zimbabwe,
inflasinya 1700%!!!
Di situs Bank Indonesia (BI) bisa dijumpai data jumlah uang M2 yang
beredar dari tahun 1990 sampai sekarang. Tahun 1990 jumlah uang M2
yang beredar sekitar Rp 60 triliyun. Kurang dari 17 tahun kemudian
(tahun 2007) jumlah itu sudah mencapai hampir Rp 1400 triliyun atau 23
kali lipat (lihat Grafik-1). Dapat dipastikan harga-harga barang sudah
naik 23 kali lipat selama 17 tahun ini. Bukannya harga-harga naik,
tetapi nilai uang diturunkan. Selama 17 tahun, 86% nilai rupiah sudah
dihancurkan. Sekarang nilainya hanya 4% dari nilai riil di tahun 1990.
Jadi jika anda 27 tahun lalu pensiun, dapat pesangon pensiun dan hidup
dari bunga deposito uang tersebut, maka pada saat ini nilai riil uang
anda di bank hanya tersisa 4% saja. Sekarang anda akan mengalami
kesulitan hidup. Dan yang lebih merisaukan lagi ialah bahwa sejak
tahun 2005 laju kenaikan uang yang beredar mengalami percepatan.
Inflasi meningkat. Berarti penurunan nilai riil uang anda semakin
dipercepat.
[cid:image001.jpg@01C9BB83.E9737E60]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBojdjeAtLr_T09r6O5Oe_0t8byZYp-Qj8a-F-Lo4OORWwOYkypAKgtd96Z2nxqha2P9htxHQGhO45d_AsE4wma9M9FAcfv2PoWUB3P4iB77Swcq8cymLXRRYXeg3xMxmKrp-w8f4Hkir5/s1600-h/Moneysupply.bmp>
Grafik 1 Uang M2 yang beredar (sumber: Bank Indonesia)
Kalau kita mundur lagi ke belakang pada saat republik ini baru diakui
dunia yaitu tahun 1950. Jumlah uang yang beredar hanya Rp 3,9 milyar
rupiah ORI (Sumber: BI). Jumlah ini sama dengan Rp 195 ribu nominal
uang Orba. (Ingat Rupiah mengalami 3 kali pengguntingan nilai
nominalnya). Kalau sekarang Rp 195 ribu adalah penghasilan sehari
pemulung di depan rumah saya, tetapi 57 tahun lalu adalah semua uang
yang beredar di republik ini. Selama 57 tahun nilai riil rupiah sudah
dihancurkan dan hanya tersisa 0.0000000142% saja (oooalah banyak benar
nolnya!!). Praktis NOL.
Nama baru inflasi saat ini ialah liquiditas. Kalau liquiditas naik
artinya, inflasi meningkat. Dipersepsikan bahwa liquiditas adalah obat
untuk segala persoalan ekonomi. Pembangunan ekonomi, untuk
menggerakkan ekonomi, mencegah dan mengobati krisis ekonomi diperlukan
liquiditas yang cukup. Sejak krisis moneter Asia 1997, krisis LTCM
(Long Term Capital Management), krismon Russia, sampai krisis bursa
Teknologi US, liquiditas membanjir. Selama dua tahun terakhir ini
terjadi percepatan laju kenaikkan rupiah yang beredar yang cukup
mencemaskan, antara 14% -20%. Soal cetak mencetak uang,bukan monopoli
Indonesia saja, tetapi juga negara lain. Tahun lalu Uni Eropa 8.5%, US
10%, Cina 19%, India (18%), Afrika Selatan 23% dan Russia 45%.
Di bawah ini adalah grafik US$ M3 yang beredar dari tahun 1980 sampai
Maret 2006 (sumber: nowandfutures.com). Sumber datanya dari the Fed
(bank sentral US). Karena sejak Maret 2006 tidak lagi melaporkan uang
M3 yang beredar maka kedepannya berupa perkiraan yang diturunkan dari
data lainnya.
[cid:image002.jpg@01C9BB83.E9737E60]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj80VWuFI94csUHmd_jsHy-WLVeOfBSCqMo9h8ihFYFi3umbB5Bn_KSu7Q8sWOT4idn-LDbpcPU_SAmFBctQf3FBTk4CLpXt7w_qBgfsuSQi9nC4r8AcFef3m88ZwaisqfCv6TCvnpz37t/s1600-h/M3+US.bmp>
Grafik 2 Pertumbuhan Uang M3 US$ dalam milyar US$
(Sumber: nowandfutures.com)
Selama kurang dari 27 tahun, jumlah US dollar yang beredar naik
menjadi 6 kali lipat. Jangan heran kalau kemudian harga-harga bahan
dasar naik. Maksudnya, nilai uang turun. Minyak naik dari titik
terendahnya $10 per barrel di tahun 1999 sekarang berkisar di level $
60. Jagung, beras, emas, perak dan komoditas lainnya naik. Lihat trend
di grafik berikut ini dan jangan hiraukan unit nya. ( 1 U.S. bushel =
35.24 liter dan 1 oz = 31.1 gram).
[cid:image003.jpg@01C9BB83.E9737E60]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheSYtAkjqRkuzkLrRTHUyJUvKKRo67Ediw5r7dyELMTXcDdRr0q3RQBLo9iCWzR7o8ihyogylD4HtAMoKLQ-s96RhCV0e3gc5Z_z8Mz0WA66zzBP422jRPoNa23FKHr0iayyRA_kCsDnBP/s1600-h/Jagung.bmp>
[cid:image004.jpg@01C9BB83.E9737E60]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9R8aQxsys51c-YOkeopPNFm4XhPq6bUmoK6ETYHrub0k6mYaxf_N8DgzIoEKnVtEinSek6vkv0eQIwcTAK1beI8BvCvlRWRnEDyDM9xlkxSd0swNQo0UqWmxQnQ_2hoaEPXTdaZJcBmYu/s1600-h/Beras.bmp>
[cid:image005.jpg@01C9BB83.E9737E60]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjji9qRZhDljVL3_MIMKGQU7Pqy1Xo0R4EktYSYJKjuCcmU0BigR5VampRwoo5gfXEHTsq4IY5qGBdT-UFPyYQ4mD87CdLdg0k45fsEz6TIqJpxH4qySuFy832pi_Qygj2xChlOCQPUj5I6/s1600-h/gandum.bmp>
[cid:image006.jpg@01C9BB83.E9737E60]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwrOKc-qLMOsLVfwqJxGG0bmYiK0va7I7X944bGGx4EbORYlepQ_vIGebec1Tua3cPfFXl4YZf1E_GzNJ_IAGAGj5hLgX8L9Jp4CdM1UI5bK5wsF0XXbM8GtO1hzd10MALoHG8Kc-vV2zV/s1600-h/emas.bmp>
[cid:image009.jpg@01C9BB85.52DEAFE0]<https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZDr5kmk_5XvxHni6tTG9eYVL3AdE5adWJYtabTxEEYRYdhOsh8C7djnlilNY-s9cbISdI2YZENZYTvIm33hBN1m-go0GnUZa7EG1wwUB7F39c9juAMtO7D7iWeN_4Jc5fgNFgCcUiuQns/s1600-h/Perak.bmp>
Kita bisa teruskan ke bahan-bahan lain. Trendnya sama, yaitu naik
(secara nominal). Dalam keadaan seperti ini, pemilik tabungan
dirugikan dan para penghutang akan diuntungkan. Nilai riil hutang atau
tabungan digerus inflasi.
Catatan Akhir dan Renungan
Pemerintah/Penguasa bukan badan yang berorientasi keuntungan dan bukan
pula yayasan sosial yang menciptakan kemakmuran. Pemerintah/penguasa
menarik pajak, retribusi, membuat inflasi, mengeluarkan surat hutang.
Katanya pajak itu akan kembali ke rakyat. Retorik itu salah. Prioritas
utamanya ialah untuk mereka sendiri, membayar gaji. Kalau ada sisa
baru disisihkan untuk memelihara dan membangun infra struktur untuk
meningkatkan kemakmuran rakyat. Pada tahun-tahun terjadinya krisis di
negri ini, seperti 1946 - 1950, 1964 - 1968, 1997 - 2000, perawatan
infra struktur hampir tidak ada. Tetapi gaji politikus dan birokrat
tetap berjalan, juga aktifitas politiknya.
Saat ini pemerintah giat melakukan operasi pasar untuk minyak goreng.
Kalau tujuannya untuk menurunkan harga, adalah usaha yang sia-sia.
Saya melihatnya hanya sebagai aktifitas politik yaitu mencari
popularitas. Seperti saya katakan: "Ada penipu kecil, penipu ulung,
politikus dan Cut Zahara Fonna". Operasi pasar, memaksa pedagang untuk
menjual barangnya di harga yang ditetapkan penguasa atau sejenisnya,
sepanjang sejarah tidak bisa membuat kemakmuran meningkat, karena
tidak ada pertambahan barang dan jasa di pasar. Kalau tindakan itu
dimaksudkan untuk mencari popularitas, pemerintah reformasi ini masih
kalah dengan Robert Mugabe. Robert Mugabe dari Zimbabwe, beberapa
tahun lalu menyita tanah dari para tuan tanah kulit putih kemudian
membagikannya kepada "petani" miskin kulit hitam. Jangan dikira
Zimbabwe jadi makmur karena banyak tanah sudah berpindah tangan kepada
petani. Produksi pangan menurun karena hengkangnya tuan tanah yang
punya keahlian mengelola sistem pertanian. Inflasi harga (kenaikan
harga barang) di Zimbabwe mencapai 1700% per tahun tidak hanya dipicu
oleh pencetakan uang tetapi juga susutnya jumlah barang di pasar.
Tuan tanah, tengkulak, pengijon, penimbun, spekulator sering dijadikan
kambing hitam oleh penguasa. Sebenarnya mereka merupakan bagian yang
penting dalam ekonomi pasar. Kalau mereka dihilangkan, ekonomi menjadi
terganggu. Nabi Jusuf adalah seorang penimbun dan spekulator. Dia
menimbun dan berspekulasi bahan pangan hanya berdasarkan mimpi Firaun.
Bulog juga penimbun. Perbedaan antara Bulog dan penimbun/spekulator
swasta ialah bahwa pelaku Bulog tidak mempunyai rasa memiliki sehingga
rawan korupsi.
Profesi sebagai politikus sangat menggiurkan. Bisa bermain-main dengan
kekuasaan dan imbalannya cukup besar. Jaman Reformasi ini seakan
sempatan berpolitik dan berpartisipasi di sektor kekuasaan semakin
terbuka lebar. Jangan heran kalau dari mulai kiai, pengangguran, guru,
artis, beralih ke profesi ini. Kecenderungannya nampak semakin banyak
"elite" politik, organisasi kedaerahan, dewan adat, laskar kedaerahan
yang orientasinya kekuasaan dan hak atas pajak/restibusi atau
sejenisnya yang disebut penghasilan daerah. Harus diingat bahwa
aktifitas semacam itu tidak menambah barang atau kemakmuran, bahkan
menurunkan kalau semakin banyak orang lari dari sektor-sektor
produktif (pertanian, manufakturing, dsb) ke aktifitas politik yang
non produktif.
Yang diceritakan di atas adalah institusi yang resmi. Ini tidak
termasuk pak Ogah, unit-unit "keamanan", tukang parkir liar, tukang
palak, organisasi kedaerahan dan sejenisnya yang tidak resmi dan ikut
menariki iuran. Mereka ini memang tidak ikut dalam komponen pemicu
inflasi moneter tetapi punya andil dalam inflasi harga. Iuran-iuran
liar ini akan dimasukkan oleh para pedagang dalam komponen biaya dan
harga jual barang menjadi lebih tinggi. Jangan heran kalau biaya hidup
di Jakarta 30% lebih mahal dari di Kuala Lumpur, karena adanya
perbedaan komponen ini.
Kalau trendnya seperti ini, apakah kita masih bisa optimis untuk menjadi makmur?
(Seandainya anda belum membaca bagian I tulisan ini, sebaiknya anda
membacanya untuk kelengkapan informasi)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google
Groups "BLOMnus.brotherhood" group.
To post to this group, send email to blomnusbrotherhood@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to
blomnusbrotherhood+unsubscribe@googlegroups.com
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/blomnusbrotherhood?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---